Edukasi Masalah Reproduksi Pada Remaja

EDUKASI MASALAH REPRODUKSI PADA REMAJA
EDUKASI MASALAH REPRODUKSI PADA REMAJA

Disusun oleh Farhan Abi Laksana P dan Ani Mustika (KKN-PPM UGM 2020)

Masa remaja merupakan waktu terbaik yang digunakan untuk membangun kebiasaan menjaga kebersihan diri termasuk menjaga kebersihan organ reproduksi, hal ini karena akan menjadi aset dalam jangka panjang bagi para remaja. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja adalah orang yang berusia 12 hingga 24 tahun. Masa remaja merupakan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Artinya, proses pengenalan dan pengetahuan kesehatan reproduksi sebenarnya sudah dimulai pada masa remaja ini. Secara sederhana, reproduksi berasal dari kata “re” yang berarti kembali dan “produksi” yang artinya membuat atau menghasilkan.

Mengapa pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja sangat penting? Karena pada dasarnya remaja perlu memiliki pengetahuan seputar kesehatan reproduksi. Tak hanya untuk menjaga kesehatan dan fungsi organ tersebut, tetapi juga bisa untuk menghindari remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Memiliki pengetahuan yang tepat terhadap proses reproduksi serta cara menjaga kesehatannya, diharapkan mampu membuat remaja lebih bertanggung jawab. Terutama mengenai proses reproduksi, dan dapat berpikir ulang sebelum melakukan hal yang dapat merugikan. Pengetahuan seputar masalah reproduksi ini tidak hanya wajib bagi remaja putri saja, tetapi anak laki-laki juga harus mengetahui serta mengerti cara hidup dengan reproduksi yang sehat. Hal ini dikarenakan pergaulan yang salah juga pada akhirnya bisa memberi dampak merugikan pada remaja laki-laki maupun perempuan.

I. SISTEM DAN STRUKTUR ORGAN REPRODUKSI

Ilustrasi sistem reproduksi manusia, sumber : materikimia.com
Ilustrasi sistem reproduksi manusia, sumber : materikimia.com
  1. Sistem Reproduksi Pria
    Struktur organ reproduksi eksternal pada pria meliputi :

    a. Penis, merupakan organ reproduksi pada pria yang digunakan untuk berhubungan seksual. Saat mencapai klimaks, sperma akan keluar melalui saluran di dalam penis.

    b. Skrotum, merupakan kantong kulit yang menggantung pada pangkal penis. Kantung kecil dan berotot ini melindungi testis, beserta saraf dan pembuluh darah.

    c. Testis, merupakan organ paling penting dari sistem reproduksi laki-laki yang yang terletak di dalam skrotum. Testis merupakan kelenjar tempat sperma dan hormon testosteron diproduksi.

    Selain itu, struktur organ reproduksi pria juga didukung oleh organ internal. Organ-organ ini meliputi uretra, vas deferens, epididimis, vesikula seminalis, duktus ejakulatorius, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbourethral. Berbagai jenis organ reproduksi internal tersebut berfungsi untuk memproduksi, menyimpan, dan mengatur keluarnya sperma. Namun, kinerja organ reproduksi pria tergantung pada kondisi hormon reproduksi dalam tubuh pria, yaitu hormon testosteron yang memiliki manfaat dalam perkembangan karakteristik seorang pria, termasuk fisik serta FSH (follicle stimulating hormone) dan LH (luteinizing hormone) yang berperan dalam produksi sperma.

  2. Sistem Reproduksi Wanita
    Struktur organ reproduksi pada wanita meliputi :

    a.Tuba falopi, organ reproduksi ini berbentuk menyerupai tabung kecil yang menempel di bagian atas rahim yang berfungsi sebagai jalur sel telur untuk bergerak dari ovarium ke rahim.

    b.Ovarium, merupakan kelenjar yang berbentuk oval dan berukuran kecil yang terletak di kedua sisi rahim. Ovarium menghasilkan sel telur serta hormon estrogen dan progesteron.

    c.Vagina (jalan lahir) dan serviks, merupakan jalur yang menghubungkan serviks (mulut rahim) ke bagian luar tubuh.

    d.Uterus (rahim), merupakan organ berongga yang berbentuk menyerupai buah pir yang merupakan tempat berkembangnya janin selama masa kehamilan.

    Selain organ-organ tersebut, organ reproduksi wanita juga dilengkapi dengan organ reproduksi eksternal yaitu, labium mayor, labium minor, kelenjar bartholin serta klitoris yang berfungsi melindungi organ reproduksi internal wanita dari penyebab infeksi dan membantu proses pembuahan sel telur oleh sperma. Sistem reproduksi wanita juga bekerja sama dengan empat hormon reproduksi utama, yaitu FSH dan LH, yang membantu proses pembentukan sel telur di ovarium, serta hormon estrogen dan progesteron, yang berperan penting untuk kehamilan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan reproduksi lebih mudah jika kesehatan tubuh dapat terjaga seluruhnya. Organ sistem reproduksi yang sehat bisa dicapai dengan menjalani pola hidup sehat untuk menunjang proses reproduksi dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Pastikan juga untuk menerapkan pola makan yang sehat, olahraga teratur, konsumsi vitamin, serta minum air yang cukup.

II. PENTINGNYA GIZI BAGI ORGAN REPRODUKSI

Ilustrasi gizi seimbang, sumber : gizi.fk.ub.ac.id
Ilustrasi gizi seimbang, sumber : gizi.fk.ub.ac.id

Kondisi kesehatan secara umum juga mempengaruhi fungsi dan proses reproduksi termasuk adanya kelainan atau penyakit yang ada di dalam organ tersebut, sehingga akan mempengaruhi kegiatan reproduksi. Reproduksi manusia membutuhkan zat gizi yang cukup untuk mencapai kematangan seksual. Gizi seimbang akan menentukan kesehatan organ reproduksi. Kesadaran pentingnya pola makan yang sehat dan seimbang sampai saat ini masih belum dimiliki kebanyakan orang utamanya pada wanita usia subur (WUS). Beberapa penelitian menyebutkan beberapa zat gizi yang penting untuk kesehatan reproduksi antara lain, karbohidrat, protein, lemak, vitamin (A, B6, B12, C, E, asam folat), mineral (zat besi, kalsium, zinc, magnesium, dan selenium).

a. Kalsium, berperan dalam interaksi protein di dalam otot yang terjadi pada waktu otot berkontraksi. Bila kalsium dalam darah kurang, maka otot tidak bisa mengendur sesudah kontraksi yang mengakibatkan tubuh kaku dan menimbulkan kejang. Kalsium juga berhubungan dengan terjadinya berat badan lahir rendah (BBLR) pada bayi serta kelahiran prematur. Sumber kalsium yang utama terdapat pada susu dan hasil olahannya (berupa keju, yogurt, dan sebagainya), ikan, serealia, serta kacang-kacangan.

b. Zinc, zinc memiliki kandungan antioksidan dan anti-inflamasi yang menghambat metabolisme prostaglandin sehingga asupan zinc yang adekuat akan membantu mengurangi kram ketika menstruasi. Sumber zinc yang paling baik terdapat pada protein hewani (daging, hati, ayam, telur, ikan), dan kacang-kacangan.

c. Vitamin, yaitu meliputi vitamin A, C, dan vitamin E. Ketiga vitamin ini berfungsi menangkal radikal bebas terhadap dinding sperma dan ovum. Buah-buahan yang kaya akan vitamin C bermanfaat dalam meningkatkan jumlah sperma. Sedangkan vitamin E sebagai antioksidan yang berfungsi mendukung produksi sperma dan hormon serta mencegah kerusakan pada DNA sperma.

d. Zat besi juga dapat membantu produksi sel darah merah yang berperan mengganti kehilangan darah selama menstruasi. Oleh karena itu, konsumsi makanan sehat dan seimbang ini sangat diperlukan terutama untuk kesehatan reproduksi, sehingga nantinya akan menghasilkan generasi sehat dan berkualitas.

Ilustrasi gizi bagi reproduksi remaja, sumber : hamil.co.id
Ilustrasi gizi bagi reproduksi remaja, sumber : hamil.co.id

III. PERUBAHAN YANG TERJADI PADA REMAJA

Ilustrasi masa pubertas, sumber : dokter.id
Ilustrasi masa pubertas, sumber : dokter.id

Memasuki masa pubertas atau remaja, banyak terjadi perubahan baik fisik maupun psikis. Masa pubertas merupakan tanda bahwa fungsi seksual dan reproduksi tubuh seorang remaja sudah mulai aktif. Tidak heran jika kemudian muncul sejumlah perubahan pada tubuh, sebagai efek dari meningkatnya hormon-hormon tertentu.

  1. Perubahan fisik yang terjadi pada remaja laki-laki diusia pubertas :

    Perubahan fisik pada remaja laki-laki umumnya mulai terjadi sekitar usia 12-16 tahun. Bisa lebih cepat atau lebih lambat, tergantung kondisi masing-masing. Ciri-ciri umum perubahan fisik pada remaja laki-laki yang sudah memasuki usia pubertas antara lain :

    a. perubahan ukuran dan warna pada testis dan penis

    b. perubahan suara menjadi lebih berat dan tumbuhnya jakun

    c. mengalami mimpi basah

    d. kulit berminyak dan berjerawat

    e. membesarnya massa otot

    f. tumbuh rambut di kemaluan dan ketiak

  2. Perubahan fisik yang terjadi pada remaja perempuan diusia pubertas :

    Usia pubertas pada remaja perempuan terjadi pada usia 10-14 tahun. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui tanda-tanda pubertas pada anak perempuan agar orangtua memberikan pendidikan seksual yang tepat pada remaja perempuan agar dapat memiliki rasa tanggungjawab terhadap tubuhnya.

    Berikut ciri umum perubahan fisik yang terjadi pada remaja perempuan diusia pubertas :

    a. payudara mulai tumbuh

    b. tumbuh rambut di sekitar ketiak dan kemaluan

    c. perubahan bentuk tubuh

    d. perubahan berat badan. Selain terjadinya perubahan fisik pada remaja, perubahan psikis pun akan terjadi juga.

  3. Berikut adalah 5 fase perubahan psikologis yang terjadi ketika remaja :

    a. Penyesuaian terhadap sense of self dalam bentuk fisik yang baru
    Remaja akan mengalami masa yang disebut pubertas. Pubertas merupakan perubahan secara fisik pada anak memasuki masa remaja menuju ke dewasa. Tidak hanya itu, pada masa pubertas, psikologis mengalami perubahan. Mereka pada saat remaja akan sangat memperhatikan perubahan fisik di tubuh. Mereka ingin tampil terbaik. Namun, ketika memasuki masa dewasa, mereka lebih dapat menerima penampilan fisik mereka.

    b. Penyesuaian terhadap tubuh dan perasaan yang mulai matang secara seksual

    c. Mengembangkan dan menerapkan kemampuan berpikir abstrak

    Pada masa kanak-kanak, pola pikir mereka adalah berpikir konkrit, yang artinya kita percaya akan apa yang kita lihat dan melihat suatu masalah dari satu sudut pandang. Pemikiran ini berkembang seiring berjalannya waktu menjadi berpikir lebih abstrak pada masa remaja.

    d. Menentukan identitas personal

    Pada masa remaja, manusia mengenal diri mereka sebagai perpanjangan dari orangtua mereka. Kemudian seiring berjalannya waktu, individu akan menyadari bahwa mereka tidaklah sama dengan orangtua mereka. Dari sinilah remaja akan mencari jati diri mereka yang sesungguhnya.

    e. Memenuhi tuntutan dan tanggungjawab sebagai orang yang semakin dewasa

    Masa remaja adalah masa yang rentan akan masuknya banyak informasi dari berbagai tempat. Oleh karena itu, orangtua tidak boleh menolak perubahan yang terjadi pada anak remajanya. Bisa jadi ini merupakan masa pencarian jati diri mereka. Sebaliknya, yang orangtua perlu lakukan adalah melakukan pendekatan dan diskusi dengan anak remajanya.

  4. Hal yang perlu diperhatikan orangtua pada masa remaja anak

    Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua pada masa remaja anak :

    a. Bersabar dalam menghadapi berbagai perubahan emosional pada anak

    b. Pastikan orangtua selalun ada untuk anak

    c. Sadari kebiasaan dan sifat anak bahwa anak mungkin jadi pemalu atau minder, tidak percaya diri karena perubahan fisik yang dialami, serta berikan dukungan dan beritahu kepada mereka bahwa semua akan baik-baik saja.

IV. RESIKO PENYAKIT YANG DAPAT TERJADI DI ORGAN REPRODUKSI

Penyakit menular seksual yang dapat terjadi pada organ reproduksi disebabkan karena infeksi yang ditularkan melalui pertukaran sperma, darah, atau cairan tubuh lainnya. Penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan area tubuh orang yang menderita penyakit menular seksual. Berikut ini penyakit menular seksual yang dapat terjadi akibat kurang menjaga kebersihan organ reproduksi :

a. HPV (Human Papilloma Virus)

HPV menyebabkan kutil pada alat kelamin, dan infeksi HPV ini adalah faktor risiko terjadinya kanker serviks pada wanita. Virus ini dapat tersebar karena kontak seksual. Namun, dalam beberapa kasus, HPV ditularkan dari ibu ke anak ketika melahirkan sehingga mengancam jiwa bagi bayi baru lahir di mana HPV akan berkembang di tenggorokan yang menyebabkan bayi kesulitan bernapas.

b. Gonorhea

Penyebab penyakit Gonorhea adalah bakteri Neisseria gonore. Penyakit ini dapat menyebar melalui kontak vagina, dan oral/ mulut dan sering terjadi pada kalangan remaja dan dewasa muda.

c. Sifilis

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini adalah infeksi yang berpotensi mengancam jiwa, yang terjadi dalam tiga tahap (primer, sekunder, dan tersier) yang meningkatkan kemungkinan tertular atau menularkan HIV.

d. HIV (Human Immunodeficiency Virus)

Human Immunodeficiency Virus (HIV) menyerang sistem kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan sindrom immunodefisiensi (AIDS).

Gejala PMS (Penyakit Menular Seksual) bervariasi tergantung agen penyakit (virus/ bakteri), jenis kelamin penderita, serta sistem kekebalan tubuh yang terpengaruh. Beberapa gejala PMS dapat mudah teridentifikasi, namun yang lain tidak diketahui selama beberapa waktu atau menyebabkan kebingungan karena gejalanya mirip dengan gejala penyakit lain. Gejala yang paling umum terjadi yaitu demam, menggigil mirip seperti flu biasanya, ruam kulit yang menutupi seluruh area tubuh, nyeri atau radang sendi, nyeri tenggorokan dan kemerahan yang terjadi berminggu-minggu.

Namun, gangguan yang sering terjadi pada organ reproduksi wanita adalah keputihan.

Keputihan adalah kondisi ketika lendir atau cairan keluar dari vagina. Keputihan merupakan cara alami tubuh untuk menjaga kebersihan dan kelembapan organ kewanitaan. Ketika seorang wanita mengalami keputihan, cairan yang diproduksi kelenjar vagina dan leher rahim akan keluar membawa sel mati dan bakteri, sehingga vagina tetap terlindung dari infeksi. Namun harap berhati-hati jika cairan keputihan mengalami perubahan warna, tekstur, dan bau. Kondisi ini dapat menjadi tanda keputihan yang tidak normal yang disebabkan oleh infeksi atau kelainan pada organ reproduksi wanita. Keputihan yang berciri seperti ini sering kali merupakan salah satu ciri penyakit kelamin pada wanita.

Gejala keputihan yang tergolong normal akan terlihat dari cairan yang keluar dengan tanda sebagai berikut :

  • Tidak berwarna atau berwarna putih bening

  • Tidak berbau atau tidak mengeluarkan bau menyengat

  • Meninggalkan bercak kekuningan di celana dalam

  • Tesktur cairan keputihan dapat berubah tergantung siklus menstruasi Sedangkan untuk keputihan yang tergolong tidak normal ditandai dengan :

    • Cairan keputihan berbeda warna, bau, atau tekstur dari biasanya

    • Cairan keputihan keluar lebih banyak dari biasanya

    • Keluar darah setelah berhubungan seksual atau di luar jadwal haid.

Untuk mencegah timbulnya keputihan yang tidak normal dapat dilakukan dengan cara :

  • Bersihkan vagina dengan sabun khusus area kewanitaan dan air hangat setelah buang air kecil atau besar, kemudian keringkan. Cara ini dilakukan untuk mencegah bakteri masuk ke dalam vagina dari dubur.

  • Hindari menyiram atau membersihkan vagina dengan semprotan air. Cara ini berisiko menghilangkan bakteri baik yang melindungi vagina dari infeksi.

  • Gunakan celana dalam berbahan katun untuk menjaga kelembapan pada area kewanitaan. Hindari menggunakan celana dalam yang terlalu ketat.

  • Hindari menggunakan sabun atau produk kewanitaan yang mengandung parfum, karena dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik pada vagina.

  • Jagalah kebersihan vagina selama menstruasi dengan mengganti pembalut setidaknya setiap 3-5 jam sekali.

  • Tidak berganti pasangan seksual atau menggunakan kondom agar terhindar dari risiko infeksi menular seksual.

  • Lakukan pemeriksaan kesehatan vagina secara rutin kepada dokter kandungan.

V. BENTUK KEKERASAN SEKSUAL DAN CARA MENGHINDARINYA

Pelecehan seksual dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pria dan wanita. Dikutip dari artikel Komnas Perempuan mengenai bentuk-bentuk pelecehan seksual, pelecehan seksual didefinisikan sebagai tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korbannya. Oleh karena itu, tidak sedikit korban pelecehan seksual yang mengalami trauma yang berkepanjangan. Berikut adalah bentuk-bentuk pelecehan seksual yang perlu diwaspadai : perilaku menggoda, pelecehan seksual, pelecehan gender, pemaksaan seksual, dan penyuapan seksual.

Berikut tips menghadapi dan menghindari pelecehan seksual di lingkungan sekitar antara lain :

a. Selalu waspada terutama ketika sedang berada di tempat publik, termasuk ketika menaiki kendaraan umum

b. Bekali diri dengan alat pembela, misalnya semrpotan merica, dan sebagainya

c. Lakukan perlawanan terhadap pelaku

d. Waspadai orang yang tidak dikenal

e. Bekali diri dengan pengetahuan seputar kekerasan seksual

f. Hindari berduaan dengan lawan jenis

g. Menghindari lewat atau berada di jalan dan tempat yang gelap dan sepi

h. Hindari tontonan yang dapat menimbulkan hasrat seksual

Sedangkan jika telah mengalami kekerasan seksual, hal yang sebaiknya dilakukan yaitu :

a. Jangan menyalahkan diri sendiri

b. Jangan langsung membersihkan anggota tubuh setelah kejadian agar dapat dijadikan sebagai barang bukti

c. Kumpulkan barang-barang yang bisa menjadi bukti

d. Segera laporkan ke pihak berwajib dan cari dukungan dari orang-orang terdekat.

e. Datang ke layanan kesehatan dan layanan kekerasan seksual untuk melakukan konsultasi

DAFTAR PUSTAKA

Healthy Children. Diakses pada 2020. Physical Development in Girls: What to Expect During Puberty.

NHS Choices UK. Diakses pada 2020. Stages of Puberty: What Happens to Boys and Girls?

Very Well Family. Diakses pada 2020. Definition of Puberty. Kids Health. Diakses pada 2020. Understanding Puberty Raising Children. Diakses pada 2020. Physical Changes in Puberty: Boys and Girls.

Shiel, W.C. MedicineNet (2019). Medical Definition of Reproductive System.

About sendang-wonogiri 610 Articles
kami hanya sangat ingin tahu...kami ingin meniru mereka yang luar biasa, yang sederhana dalam ucapan dan tulisan, tetapi hebat dalam tindakan...

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan