Red Sore Disease: Penyakit Bercak Merah yang Sering Menyerang Ikan

Perikanan

Disusun oleh Febiola Nur S (KKN-PPM UGM 2020)

Produk kelautan dan perikanan menjadi salah satu nilai ekspor tertinggi di Indonesia yang menjadi perhatian bagi pemerintah. Pasalnya, nilai ekspor produk perikanan menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia naik 10,8% pada tahun 2019 kemarin. Hal ini yang menjadi sorotan bagi pemerintah untuk terus meningkatkan produksi dalam negeri dari sektor perikanan dan kelautan. Namun, dalam pelaksanaannya seringkali terjadi kendala lantaran ikan tiba-tiba mati dikarenakan beberapa faktor, salah satunya adalah penyakit. Taukah kalian apa penyakit yang sering menyerang ikan yang dapat menurunkan angka ekspor Indonesia? Ya, salah satunya adalah penyakit Red Sore Disease yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas sp. Aeromonas sp. merupakan bakteri patogen yang sering menyerang dan mengakibatkan kematian pada ikan. Bakteri Aeromonas hydrophilla dapat menyebabkan penyakit haemorrhagic septicaemia atau motile aeromonad cepticaemia (MAS) dan mengakibatkan pendarahan yang parah di berbagai organ ikan. Aeromonas sp. dapat dijumpai di lingkungan air payau, air tawar, atau lautan.

Pada umumnya penyakit ini akan menyerang ikan yang luka karena penanganannya kurang baik, kurang gizi karena pakan yang diberikan kurang tepat baik mutu maupun jumlahnya, banyak terinfeksi oleh parasit, serta kandungan zat asam dalam kolam yang sangat rendah. Serangan Aeromonas biasanya dipicu oleh perubahan kondisi lingkungan secara mendadak, terutama suhu tinggi dan rendahnya oksigen terlarut.

Lalu apa saja ciri-ciri ikan yang terserang penyakit ini? Ikan yang terserangan bakteri Aeromonas sp. biasanya terdapat ulser (luka yang mencekung) yang berbentuk bulat atau tidak teratur dan berwarna merah keabu-abuan, bisa juga terjadi peradangan di dalam rongga dan di sekitar mulut seperti penyakit mulut merah (red mouth disease). Ciri lain adalah terjadi pendarahan pada sirip dan exophthalmia (pop eye), yaitu mata membengkak dan menonjol, pendarahan pada tubuh, perut membesar, lendir mencair, sisik mengelupas, borok, nekrosis, busung, dan ikan lemas sering di permukaan atau dasar kolam. Selain itu dapat terjadi kerusakan pada daging, limpa dan hati.

Penyebaran serangan Aeromonas sp. dapat berlangsung secara vertikal (genetik) antara induk dengan anaknya dan secara horizontal (lingkungan) antara ikan berbagai jenis. Aeromonas sp. dapat tumbuh dan berkembang biak pada usus ikan.

Penyakit ini dapat diobati dengan cara merendam ikan yang terinfeksi dengan kalium permanganat 10-20 mg per liter air (selama 1/2 sampai 1 jam), Suntik tetramysin dengan dosin 0,5 ml per 1kg bobot ikan atau Mencampur pakan dengan oxytetracylin 50 mg/1 Kg pakan (7-10 hari). Selain dapat diobati dengan bahan-bahan kimia tersebut, penyakit ini juga bisa disembuhkan dengan bahan alami lho. Salah satunya dengan diberikan bubuk daun sirih sebanyak 0,2-0,4 mg/100 gr pakan. Tanaman lain yang dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif adalah paci-paci, bawang putih, dan sambiloto. Namun, kemungkinan ikan untuk sembuh dari penyakit ini bergantung dengan kemampuan imunitas masing-masing individu ikan dalam melawan penyakit.

Nah, agar ikan-ikan dapat terhidar dari serangan Aeromonas ini maka diperlukan upaya pencegahan. Pencegahan yang dapat dilakukan petani ikan agar penyakit tidak menyebar adalah dengan dengan memperbaiki sanitasi dari kolam, pemberian nutrisi yang baik, transportasi yang tepat serta penyesuaian temperature pada ikan, serta pengurangan populasi pada kolam agar tidak semakin menyebar.

                   Gambar Ikan yang Sehat
      Gambar Ikan yang Sakit

Referensi:

Afrianto, E.; Liviawaty, E.; Jamaris, Z.; dan Hendi. 2015. Penyakit Ikan. Jakarta: Update Buku.

Khairuman dan Amri, K. 2013. Budi Daya Ikan Nila. Jakarta: PT. AgroMedia Pusaka.

Kkp.go.id. 2020, 15 Januari. Nilai Ekspor Hasil Perikanan 2019 Meningkat 10,8 Persen. Diakses pada 8 Juli 2020, dari
https://kkp.go.id/bkipm/artikel/16379-nilai-ekspor-hasil-perikanan-2019-meningkat-10-8-persen.

Kurniawan, A. 2012. Penyakit Akuatik. Bangka Belitung: UBB Press.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *