Lepaskan bantuan PKH, Sutini merintis usaha dan berharap lebih mandiri

WONOGIRI – sendang-wonogiri.desa.id | Di kios kecil paling ujung sebelah timur di selter obyek wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM), Sendang, Wonogiri, Sutini duduk-duduk sembari menunggu pembeli. Di sana, ia berjualan aneka kaos sablon bertema WGM, sandal, hingga daster. Baru tiga pekan ia berjualan di tempat itu.

program-pkh

Sutini saat menunggu kiosnya di selter obyek wisata WGM, Sendang, Wonogiri (Dok.desa.id – Foto : Toto)

Ia menceritakan pengalamannya hingga kini berjualan di selter itu. Saat itu, wanita 45 tahun ini berjualan di Pasar Wonogiri. Pada suatu siang, di tahun 2002 ia meminjam uang Rp10 juta ke bank untuk kulakan. Namun, tak disangka malam harinya Pasar Wonogiri terbakar hingga menghanguskan seluruh dagangan yang baru saja ia kulak dari duit pinjaman bank. “Barang dagangan saya ludes semua. Saya lalu berjualan nasi keliling untuk membayar angsuran ke bank,” kata dia.

Saat itu, suaminya, Jawadi, 52, bekerja sebagai tukang sol sepatu di Wuryantoro. Di tengah kesulitan ekonomi, Sutini harus menghidupi dua anaknya, satu masih SMP, satu masih balita. Di rumahnya dia juga harus merawat empat orang lanjut usia (lansia) yakni bapak, ibu, mertua, dan kakaknya. Kini, keempatnya telah meninggal dunia. “Sampai-sampai bayar sekolah si sulung itu selalu menunggak. Tapi anak saya itu semangat belajarnya,” ujar dia.

program-pkh

Sutini dan suaminya (berdiri tengah) didampingi pendamping PKH didepan kiosnya di selter obyek wisata WGM, Sendang, Wonogiri (Dok.desa.id – Foto : Toto)

Pada 2011, Sutini dan seorang tetangganya mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH) dari Pemerintah. Si sulung yang masih SMP menerima bantuan Rp900.000 per tahun. Sedangkan, adiknya yang balita dapat Rp1 juta per tahun. Ia juga menerima bantuan beras miskin (raskin) yang lalu berunbah menjadi beras sejahtera (rastra). Uang itu dipakai sepenuhnya untuk kebutuhan hidup keluarga. Beban hidup Sutini pun jadi lebih ringan.

program-pkh

Sutini bersama anak bungsunya membuka usaha kios di wisata WGM, Sendang, Wonogiri (Dok.desa.id – Foto : Toto)

“Setelah anak saya lulus SMA, dia diterima bekerja di RSUD Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Dua tahun bekerja di sana, anak saya meminta izin untuk kuliah. Saya hanya bisa membantu doa karena memang kesulitan membantu biayanya,” tutur warga Dusun Sendang RT 001/RW 002, Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, itu.

Kini, ia merasa sumringah saat dikabari anaknya selesai ujian skripsi. Jika tak ada aral, anaknya akan mengikuti wisuda pada Maret nanti. Ia pernah berjanji jika anaknya lulus kuliah ia akan mentas dari PKH. “Aku seneng anakku dadi sarjana. Suami juga mengizinkan (tak lagi menerima PKH). Anak-anak juga mendukung. Saya berharap bisa lebih mandiri setelah keluar dari PKH,” harap dia.

program-pkh

Sutini saat masih aktif mengikuti program pendampingan PKH di Desa Sendang, Wonogiri (Dok.desa.id – Foto : Toto)

Si bungsu yang kini duduk di bangku kelas V SD masih dapat bantuan pendidikan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sempat mendapat Program Bantuan Pangan Non Tunai, Sutini sudah tiga bulan ini memutuskan untuk tidak lagi menerimanya.
“Saya memutuskan keluar bukan berarti saya sudah kaya. Saya hanya bersyukur dengan apa yang saya terima selama delapan tahun dari PKH.

Saya berharap dana itu bisa diberikan kepada orang lain yang lebih layak menerima daripada saya. Sebab, banyak juga orang yang lebih mampu dari saya tapi enggan melepas PKH yang diterimanya,” urai Sutini, yang juga menjadi ketua kelompok PKH beranggotakan 120 keluarga.

Kini, Sutini hidup mengandalkan hasil berjualan di selter WGM dan jasa foto badut di kawasan yang sama. Sedangkan, suaminya masih mengesol sepatu di Wuryantoro. Setiap akhir pekan, Jawadi membantu istrinya berjualan di WGM. Ia merasa bersyukur kendati pendapatannya tak menentu. (Admin-Espos, Sabtu, 23/2)

Facebook Comments

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan